Sejarah

Masa Perintisan

Berdirinya Gereja Utusan Pantekosta Jakarta bermula dari visi Ibu Cory Obadja, istri pdt  Bapak Pdt. Jahja N. Obadja, pendeta GUP Jemaat Bandung pada acara pengucapan syukur rumah baru Bapak Januard Kosasih pada tanggal 30 April 1978. Pada kesempatan itu ibu Cory menyampaikan kerinduaannya untuk dapat membangun GUP di Jakarta kepada orang orang eks GUP daerah yang ada di Jakarta yang kala itu juga diundang yaitu  beberapa orang eks GUP Bandung dan Solo seperti keluarga Januard Kosasih sendiri lalu keluarga Ir. Tobi Linando, Keluarga Ibrahim, keluarga Usman, keluarga Halim Darmadji, keluarga Ir Handojo, Hendrawan dan Elsje Sulistio.

Visi tersebut direspon positif oleh yang hadir dan diputuskan untuk memulai dengan membentuk persekutuan rumah tangga sebulan sekali dari rumah ke rumah secara bergantian yang dilayani oleh Bapak Pdt Jahja N. Obadja. Enam rumah yang digunakan untuk persekutuan tersebut ialah:

  1. Rumah keluaga Januard Kosasih  di Jl.Kayu Putih Tiga II A/ 19 Jakarta Timur,
  2. Rumah keluarga Ir Tobi Linando di Jl Pluit  Permai I/31 Jakarta Utara,
  3. Rumah keluarga Usman di Jl Pulo Asem IV/6 Jakarta Timur,
  4. Rumah keluarga Ibrahim di jl. Cawang Baru Barat no 2 Jakarta Timur,
  5. Rumah keluarga Halim Darmadji di jl. Duta Permai VI/6 Pondok Indah Jakarta Selatan dan
  6. Rumah keluarga Ir Handojo di jl. Petojo VI J II/42 Jakarta Pusat.

Tekad untuk membentuk jemaat GUP di Jakarta berlanjut dengan dibentuknya Sekolah Minggu GUP Jakarta pada tanggal 1 Juli 1978  dengan menggunakan rumah kel. Ir Tobi di Jl Pluit Permai I/31. Beberapa dari anggota eks GUP yang baru datang ke Jakarta seperti Ir Tjahja Eddy, Drs Barnabas W. B. dan juga mereka yang berasal dari gereja lain seperti Sdri Yoshepine bergabung. Mereka kemudian membentuk panitia kepengurusan yang diketuai oleh Bapak Halim Darmadji dan bercita cita untuk mempunyai tempat ibadah yang permanen.

Masa perkembangan awal

Setelah persekutuan berjalan tiga tahun lebih maka kerinduan ini dijawab Tuhan, dengan bantuan Ir Tobi Linando persekutuan membeli dengan mencicil sebuah rumah pojok di Muara karang Blok W3U no21 seluas 10.46×15 meter dari PT Jawa Building Indah, perusahaan tempat Ir Tobi Linando bekerja. Pada tanggal 21 Mei 1982 penggunaan gedung gereja tersebut diresmikan dengan mengundang pejabat pemerintah,  para hamba Tuhan dan Jemaat GUP lainnya, sekaligus pentahbisan majelis gereja yang pertama .

Dengan semangat dan persatuan yang kuat GUP Jakarta berkembang terus, Sekolah Minggu di Pulomas terbentuk 20 Juni 1982 dan enam hari kemudian pada tanggal 26 Juni 1982 Kebaktian Pemuda yang pertama diselenggarakan di Muara Karang. Bapak Pdt. Matius yang telah melewati masa perkenalannya, kemudian diangkat menjadi Pejabat Gembala Jemaat pada tanggal 14 Juli 1982. Selain itu kemudian bergabunglah anggota baru eks GUP seperti Keluarga Paulus Setio Kurniawan, Keluarga Daniel Santoso, Sdr John Sutikno, Sdr Eddy Tjahjanto, Sdr Andreas Mulyadi, dan Ibu dr Lina Tjahja, dan juga beberapa anggota yang berasal dari gereja lain seperti Sdr Dhanny Kusnawan dan Sdri Yenny Sunario ke dalam pelayanan.

Beberapa bulan kemudian pengurus seksi Sekolah Minggu, seksi Pemuda, seksi wanita dan seksi Paduan Suara yang pertama terbentuk, dan dilantik pada tanggal 26 September 1982. Pada tahun yang sama, dalam rangka penggembalaan  pembinaan dan pengembangan maka jemaat dibagi dalam rayon – rayon pada tanggal 19 Desember 1982. Rayon – rayon itu ialah Rayon Utara, Rayon Timur, dan Rayon Pusat/ Barat. Hubungan dengan beberapa STT dirintis, dan pada tahun 1983 tenaga bantuan dari mereka yang praktek pelayaan dari STT SAAT Malang ( Sdr. Kimong Witarsa) dan STT Abdiel Ungaran ( Sdr Phan Bin Ton) ikut mempercepat kemajuan tersebut antara lain dengan membuka persekutuan di Tanjung Priok, yang kemudian ditetapkan sebagai pos PI pada tanggal 21 Agustus 1983. Keadaan jemaat pada era ini makin diperkuat dengan bergabungnya beberapa anggota baru yang ikut giat dalam pelayanan seperti keluarga Ir Bagiono Unawekla, Sdr Benny Darmawan.

Pada tahun  akhir tahun 1983, Tuhan memberikan kesempatan jemaat untuk membeli rumah sebelah gereja (yang bernomor 23) seluas 8x15meter sehingga luas keseluruhan menjadi 18.46×15 meter. Dalam mempersiapkan perkembangan ke depan, jemaat pada tahun 1984 memberikan bea siswa kepada 6 calon hamba Tuhan yaitu untuk Sdr Widodo, Sdr Priyono di STT Abdiel, Sdri Puasma, Sdr Kristiono, Sdr Samuel Subrata di STT Bethel Petamburan dan Sdr Herman di STII Yogyakarta, dan pada tahun itu juga tenaga full timer bertambah dengan masuknya Sdr Ishak dan Sdr Anton Legiono.

Dengan semangat yang berkobar – kobar jemaat memperluas pelayanan dan membuka persekutuan Remaja di Pulomas  Januari 1985  juga memulai persekutuan keluarga di rumah Sdr Paulus Mardoyo Bekasi pada tanggal 13 Februari dan di rumah Sdr Suripto Basuki di Ujung Menteng serta rumah  Sdr Nur Tjahyono di Kranji 24 Maret berikutnya. Aktivitas jemaat untuk menjangkau masyarakat juga penuh dengan kreativitas misalnya dengan mengadakan Pasar Murah, mengadakan Pameran lukisan Anak Sekolah Minggu untuk menyongsong perayaan 17 Agustus, menyelenggarakan Malam Musik dengan mengundang Karang Taruna dan RT, Aksi Sosial seperti pembagian beras untuk masyarakat miskin dan kunjungan ke Panti Sosial. Kegiatan untuk peningkatan rohani dan keakraban meliputi “Donor darah intern jemaat”, “Olah Raga bersama”, Mengadakan “Tea Walk” ke Puncak, Camp Keluarga, dan KKR.

Masa Kritis

Saat itu banyak permintaan untuk membuka persekutuan dan pos PI baru, semua permintaan itu dijajaki dan direspon, dan anggota baru yang berasal dari berbagai gereja bergabung. Pada Maret tahun 1985 itu majelis  merampungkan program kerja lima tahun sampai tahun 1990 yang berorientasikan kepada perkembangan secepatnya, namun perhatian dalam mempersiapkan kualitas para pelayan kurang, semua melakukan pelayanan sesuai dengan persepsi masing – masing dan ini menimbulkan banyak variasi dalam persekutuan yang kemudian menjadi masalah seperti adanya konflik antar pekerja full timer pada bulan Maret.

Perkembangan yang cepat yang ditargetkan, memerlukan banyak tenaga baru karena itu majelis mencari tenaga praktek dan menjajaki beberapa pekerja, hasilnya kemudian pada 14 Mei 1985, Drs Ong Kim Hie ( Hadi Pranata) bergabung ke GUP Jakarta. Pada 26 Mei Majelis baru periode ’85-’88 ditahbiskan dan Ir Bagiono dan dr Lina Tjahja masuk untuk memperkuat stuktur majelis. Pada 1 Juni Praktikan dari SAAT ( Sdr The To Liong dan Sdr. Chin Bui Kiong) juga datang untuk membantu pelayanan selama 3 bulan.

Masalah perbedaan internal mulai muncul sehingga pada bulan Juni Pdt Matius mengundurkan diri dari GUP Jakarta karena beliau tidak dapat memenuhi persyaratan administrative yang berkaitan dengan doktrin dari Majelis Pusat GUP sehingga kembali GUP Jakarta tidak mempunyai pendeta. Dalam kevakuman itu atas rekomendasi Pdt Jahja N. Obadja, majelis mengundang Bpk Utju Terahadi untuk bergabung dan melayani di GUP Jakarta dan penggabungan itu dimulai 1 November 1985 dan ditahbiskan satu bulan berikutnya pada1 Desember.

Pada periode ini terjadi konflik  perbedaan budaya ibadah dan tata tertib berjemaat, akibatnya pada tanggal 1 Maret 1987 Ir Tobi Linando mengundurkan diri dari GUP Jakarta yang diikuti oleh Pdt Utju Terahadi, Sdr Anton Legiono, dan sejumlah anggota, kemudian Ir Tobi Linando membentuk persekutuan sendiri  Jl Pluit Murni III no 11. dengan nama “House of Grace”. Perpisahan ini menggoreskan luka kepada semua pihak karena persatuan dan persaudaraan yang dahulu begitu kuat menjadi hancur.

Masa Pemulihan

Bulan dan tahun setelah perpisahan itu terasa melelahkan karena jemaat merasa terluka akibat perpisahan, namun Pdt Petrus Iman Santoso senantiasa memberi motivasi dan mendorong Majelis yang ada untuk tetap bersemangat dalam pelayanan di GUP. Pada bulan Juni ketika beliau hadir di Jakarta beliau mendorong jemaat untuk terus maju dan memperbaiki gedung tempat ibadah supaya terlihat seperti layaknya sebuah gereja.

Untuk mengatur ulang pelayanan yang ada anggota majelis yang ke II terdiri dari majelis lama yang ada ditambah dengan masuknya Sdr Suripto Basuki dan Drs Hadi Pranata dan ditahbiskan oleh Pdt Petrus Iman Santoso pada 24 Oktober 1987. Pada bulan Juli 1987, Sdr Widodo yang sudah menyelesaikan studinya resmi diangkat menjadi pekerja dan pada bulan Mei 1988, Drs Hadi Pranata diangkat menjadi Pendeta Muda. Selain itu untuk menertibkan pengelolan asset jemaat dan untuk membantu perkembangan gereja melalui kegiatan sosial maka majelis membentuk Yayasan Duta Asih.

Dalam jemaat masih muncul antusiasme yang diwakili oleh para  remaja pemuda. Agustus 1987, Kelompok Ansemble dibentuk dibawah koordinasi Sdr Andreas Kosasih, dan pada pertengahan tahun tersebut majelis membentuk team pembangunan untuk merenovasi gereja. Pada tahun 1989 tenaga pelayan fulltimer bertambah dengan selesainya Sdr Samuel dari studinya, dan pada awal tahun 1990  jemaat mencoba mengadakan kebaktian dengan bahasa Mandarin beberapa kali sayangnya hal tersebut tidak diteruskan karena keterbatasan tenaga pembicara dan penterjemahnya. Pada akhir tahun tepatnya pada tanggal 11 November 1990, Pdt Petrus Iman Santoso dipanggil pulang oleh Bapa di surga, GUP Jakarta kehilangan penasehat yang setia mendampingi di kala sulit.

Masa membangun kembali

Menjelang Natal tahun itu pada tgl 28 November terjadi kebakaran dan gedung gereja nyaris terbakar, tiga rumah di belakang gereja habis terbakar tetapi karena perlindungan Tuhan api berhenti saat sampai di bangunan Gereja, karena itu penduduk di sekitar gereja memberi julukan gereja yang sakti.

Perayaan Natal yang diselenggarakan pada tahun itu diadakan dengan tembok yang penuh jelaga, namun hal itu menjadi dorongan buat mempercepat pembangunan gereja.

Bentuk gereja dibantu designnya oleh Arsitek Ir. Eriadi Trisnawan, struktur dibantu oleh Ir. Bagiono dan Ir. Widianto, pelaksanaannya dikoordinir oleh Bapak Jan Kosasih, dan peletakan batu pertama dilaksanakan pada tanggal 21 April 1991.

Tanggal 10 Februari 1991, Sdr Widodo ditahbiskan menjadi pendeta muda dan Pdm Hadi Pranata ditahbiskan menjadi pendeta penuh pada bulan Juni 1991, selain itu untuk menghindarkan kerancuan penggunaan nama gereja, Musyawarah Kerja Sinode 7 – 9 Agustus 1991  memutuskan nama jemaat diganti menjadi GUP Jemaat Muara Karang.

Pada bulan Agustus 1991, Majelis ke III ditahbiskan dengan menambah Sdr Usman Hartono untuk menggantikan Bpk Suripto Basuki yang mengundurkan diri. Keputusan peggantian nama tersebut tidak dipermasalahkan jemaat karena perhatian difokuskan pada pembangunan. Kebutuhan pembiayaan yang besar dicukupi oleh Tuhan sehingga pembangunan tersebut dapat diselesaikan pada tanggal 26 April 1992.

Pada tanggal 29 Mei 1994  majelis yang ke IV ditahbiskan, pada  masa membangun kembali ini Tuhan memberikan terobosan, Ia mengirimkan Pdt  Matius yang sudah emeritus (pensiun) ke Jakarta, beliau menyatakan ingin membantu pengembangan jemaat di bidang apa saja secara suka rela walau tanpa jabatan resmi. Ketika ditanyakan motivasinya beliau menyatakan, “ Waktu saya tinggal sedikit (karena usianya sudah lanjut) karena itu saya ingin dapat berbuat sebanyak mungkin dengan waktu yang tersisa dalam hidup saya untuk Tuhan”. Kerinduannya itu mendapat tanggapan dari beberapa anggota jemaat dan beliau didukung untuk merintis persekutuan di daerah Sewan Tanggerang, persekutuan tersebut dimulai sekitar tahun 1995 di komunitas “Cina Benteng”.

Persekutuan ini menjadi awal dari terbentuknya Pos PI Tanggerang, Sdr Ellyezer Wahono dari STT Abdiel Ungaran yang praktek pelayanan di GUP Muara Karang 1996, diperbantukan di perintisan Pos PI ini. Pdt Matius dipanggil Tuhan  tahun 1999 dan Sdr Eliezer yang sudah bergabung dengan GUP Muara Karang diberi tanggung jawab meneruskan perintisan tersebut sampai sekarang.

Sesuai dengan rencana pengembangan yang ada, pada tanggal 13 April 1997, Pos PI Tanjung Priok didewasakan. menjadi gereja GUP mandiri. Sedangkan di jemaat GUP Muara Karang,  mengingat usia sebagian pendiri dan majelis senior memasuki usia lanjut maka mulai dipikirkan kaderisasi dan regenerasi untuk kesinambungan pelayanan.

Pemikiran itu juga dilandasi keinginan supaya dengan masuknya wajah baru dalam jajaran kepemimpinan jemaat, GUP Muara Karang dapat menemukan gaya yang pas dengan semua aspirasi yang berkembang. Untuk merealisasikan maksud itu pada pada tahun Juni 1997 pada pemilihan majelis periode yang ke V, sebagian dari para senior dan pendiri mengundurkan diri dan beberapa aktivis baru masuk ke dalam  kemajelisan. Mereka itu ialah Sdr Mulyadi Rahardjo, Sdri Rachel Sintiani, Sdr Bambang Sutikno serta Ibu Liana Kosasih, sedangkan para senior yang tetap menjabat untuk mendampingi ialah Ir. Bagiono Unawekla dan Bpk Usman Hartono.

Upaya kaderisasi dan regenerasi berlanjut dan pada pemilihan majelis periode ke VI yaitu pada 1 Oktober 2000 kemajelisan dirampingkan menjadi 5 orang dengan harapan bisa lebih effektif. Sdr Bambang Sutikno dan Ibu Liana Kosasih mengundurkan diri serta Ir Bagiono pindah ke Yogyakarta, kemudian Bpk Robert Effendy dipilih dan masuk dalam jajaran kemajelisan. Berikutnya yaitu pada periode ke VII  kemajelisan yang ramping ini tetap dipertahankan dan Bpk Usman dan Ibu Rachel Christianus dan Sdr Mulyadi Rahardjo yang sudah menjabat 2 periode pada bulan Juni 2003 digantikan oleh ibu Liana Kosasih, Ir Alief Handojo dan satu wajah baru yaitu Bpk Saint Kosasih.

Untuk menangani pelayan yang ada jemaat menerima Sdri Diah sebagai tenaga fulltimer baru pada bulan November 2003, berikutnya pada Oktober 2005, Drs Anton Kurniawan M div. bergabung melayani jemaat selama 1 tahun.

Pemilihan majelis periode ke VIII, pada Pada periode ini ibu Liana mengundurkan diri dan Bpk Robert Effendy yang telah menjabat 2 periode digantikan oleh Bpk Benny Sukamto dan Bpk  Sanusi Suprayogi, dan Sdr Mulyadi menjadi wakil Bpk Saint Kosasih.

Majelis periode ini bertekad untuk berorientasi ke depan, oleh karenanya titik berat pelayanan difokuskan untuk mengembangkan jemaat baik secara kualitas dan kuantitas.

Incoming search terms:

  • 24 oktober 1987 di halim
  • gereja GUP solo daerah mana
  • gereja utusan pantekosta bandung
  • handojo rahardjo
  • Pdt Phan Bin Ton
  • petrus iman santoso
Be Sociable, Share!